Ngaji Gus Baha & Abi Quraish Shihab
Gus Baha
& Habib Qurais Shihab
Menjelang
peringatan Maulid Nabi Muhammad Saw, ruang-ruang keagamaan kita selalu dipenuhi
naskah puji-pujian, lantunan sholawat, serta dialog-dialog ilmiah. Namun, dari
sekian banyak sudut pandang, pendekatan seperti apa yang paling tepat untuk
menatap kembali figur Sang Nabi?
Melalui
perjumpaan dua ulama besar Indonesia, KH. Ahmad Bahauddin Nursalim (Gus Baha)
dan Prof. Dr. M. Quraish Shihab, kita diajak menyelami dua samudra keilmuan
yang saling melengkapi. Gus Baha hadir dengan pendekatan khas pesantren yang
lugas, sarat kegembiraan iman (faraḥ), serta
logika fikih dan hikmah keberagamaan yang membebaskan. Sementara itu, Prof.
Quraish Shihab membawa ketajaman tafsir Al-Qur'an, kekayaan sintesis antara
akal (rasio) dan hati (kalbu), serta pemaknaan mendalam akan
hakikat Rahmatan lil 'Alamin.
Ceramah Gus
Baha
Dua Sisi
Kemanusiaan Sang Nabi dan Kegembiraan Beragama
Tuhan
selamanya adalah Allah, dan manusia selamanya tetaplah hamba. Justru dalam sisi
basyariyyah (kemanusiaan) yang biasa, Nabi sukses menjaga ketauhidan murni.
Gus Baha
membuka uraiannya dengan menggarisbawahi bahwa Rasulullah Muhammad Saw adalah
seorang basyar (manusia biasa). Hal ini bukan untuk mengecilkan derajat
beliau, melainkan sebagai fondasi utama ajaran Islam. Dalam Al-Qur’an
disebutkan:
وَمَا
أَرْسَلْنَا قَبْلَكَ مِنَ الْمُرْسَلِينَ إِلَّا إِنَّهُمْ لَيَأْكُلُونَ
الطَّعَامَ وَيَمْشُونَ فِي الْأَسْوَاقِ ۗ وَجَعَلْنَا بَعْضَكُمْ لِبَعْضٍ
فِتْنَةً أَتَصْبِرُونَ ۗ وَكَانَ رَبُّكَ بَصِيرًا
“Kami tidak mengutus rasul-rasul sebelummu,
melainkan mereka sungguh memakan makanan dan berjalan di pasar-pasar. Dan Kami
menjadikan sebagian kamu sebagai cobaan bagi sebagian yang lain. Maukah kamu
bersabar? Dan Tuhanmu Maha Melihat.” (QS. Al-Furqan: 20)
Keberadaan
Nabi yang biasa makan, pergi ke pasar, dan merasakan dinamika rumah tangga
adalah jaminan bahwa beliau tidak akan pernah disembah atau didudukkan sebagai
Tuhan sebagaimana terjadi pada tradisi pengaguman eksesif terhadap Nabi Isa AS.
Keagungan Nabi Muhammad Saw terletak pada posisinya yang kokoh sebagai seorang
hamba (abdun) dan utusan (rasul). Sisi kemanusiaan Nabi membawa
hikmah hukum yang sangat besar bagi umatnya. Salah satu contoh nyata adalah
riwayat tatkala Nabi terlupa dalam salat Zhuhur dan hanya menunaikan dua
rakaat.
Ketika
sahabat Zulyadain bertanya apakah salat memang di-qashar atau beliau lupa, Nabi
bersabda: “Aku tidak lupa, melainkan Allah menakdirkanku lupa agar aku bisa
menciptakan tradisi hukum (sunnah) tentang bagaimana cara menghadapi kelupaan.”[1]
Jika
Nabi tidak pernah lupa, maka umatnya yang sering terdistraksi atau lupa dalam
ibadah tidak akan memiliki pintu kemudahan (rukhshah) dalam syariat.
Lupanya Nabi adalah bentuk kasih sayang Allah agar hukum Islam memiliki ruang
fleksibilitas.
Dalam
kehidupan berkeluarga, Nabi Muhammad Saw juga mengalami dinamika biasa. Beliau
pernah dicemburui atau dikomplain oleh istri-istrinya terkait kebutuhan
finansial.
Gus Baha menyoroti ayat Al-Qur'an:
وَعَاشِرُوهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ ۚ
فَإِنْ كَرِهْتُمُوهُنَّ فَعَسَىٰ أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَيَجْعَلَ اللَّهُ
فِيهِ خَيْرًا كَثِيرًا
Dan
bergaullah dengan mereka secara patut. Jika kamu tidak menyukai mereka, (maka
bersabarlah) karena boleh jadi kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah
menjadikan kebaikan yang banyak padanya.”
(QS. An-Nisa: 19)
Al-Qur’an
menggunakan klausa fain karihtumuhunna (jika kalian benci/kurang suka),
bukan fain ahbabtumuhunna (jika kalian cinta). Hal ini secara realistis
mengakui bahwa dalam hubungan manusiawi, potensi ketidaksukaan atau kejenuhan
itu ada. Agama mengajar agar ketidaksukaan dikelola dengan kelapangan dada dan
cara berpikir objektif, karena boleh jadi di balik hal yang tidak kita sukai,
tersimpan kebaikan (khairun katsir) yang amat besar.
Salah
satu gagasan pemikiran Gus Baha yang paling mencolok adalah kritikannya
terhadap sikap tawadhu’ (rendah hati) yang terlalu ekstrem hingga
tergelincir menjadi sikap tidak bersyukur atau mengeluh. Mengutip pemikiran
Imam Asy-Sya'rani, Gus Baha menekankan pentingnya mengingat kesempurnaan nikmat
Allah (uzkur kamalatika).
Orang
yang selalu menyebut dirinya "bodoh" atau "tidak punya
apa-apa" rentan tergolong menyangkali karunia Al-Qur'an, iman, atau nikmat
sujud yang telah Allah berikan kepadanya. Mengingat bahwa kita telah diberi
iman, diberikan tubuh untuk bersujud, dan diberikan petunjuk Al-Qur’an
melahirkan rasa bangga yang positif (faraḥ). Syukur menduduki derajat spiritual yang
sangat tinggi karena menghubungkan hamba secara langsung pada kebaikan Sang
Pencipta.
Ceramah Abi Quraish shihab
Empat
Pendekatan Memahami Nabi dan Hakikat Rahmat yang Meluas
“Kami
tidak mengutusmu (Wahai Muhammad) kecuali untuk menjadi rahmat. Bukan sekadar
membawa rahmat, melainkan wujud dirimu sendiri di mana pun berada adalah rahmat
itu sendiri.”
Jika Gus
Baha membawa kita melihat Nabi dari sisi kemanusiaan, kegembiraan iman, dan
hikmah keberagamaan, Prof. Quraish Shihab membawa kita memasuki wilayah lain bagaimana manusia memahami Nabi melalui akal,
kalbu, dan perspektif Al-Qur'an. Prof. Quraish Shihab mengklasifikasikan empat
cara pandang atau pendekatan manusia dalam memahami profil dan sejarah Nabi
Muhammad Saw.
Pertama,
pendekatan kebencian (Hatred Approach). Umumnya ditemukan dalam
literatur beberapa kaum orientalis. Mereka mencari-cari celah, seperti
memelintir pernikahan Nabi dengan tuduhan hedonistis, padahal pernikahan beliau
sarat akan dimensi sosial, perlindungan janda, dan tradisi edukasi syariat
rumah tangga.
Kedua,
pendekatan cinta ekstrem (Love Approach). Ditemukan dalam banyak karya
sastra maulid atau puji-pujian, seperti Qasidah Burdah karya Al-Bushiri.
Pendekatan ini lahir dari keharuan kalbu, yang terkadang menggunakan metafora
atau gaya bahasa (majaz) ekspresif hingga kerap disalahpahami oleh
kelompok yang berpikiran kaku.
Ketiga,
pendekatan rasional murni (Rational Approach). Menganalisis Nabi
semata-mata sebagai genius politik, militer, atau pimpinan reformis sosial,
seperti dalam buku Abqariyat Muhammad karya Abbas Al-Aqqad.
Keempat,
pendekatan Qur'ani, yaitu sintesis akal dan kalbu. Pendekatan ini menyatukan
rasio dan iman. Akal digunakan untuk memverifikasi kehebatan rekam jejak
beliau, sedangkan kalbu digunakan untuk beriman pada intervensi dan pertolongan
Allah (Inayah Ilahiyyah) di balik perjuangan beliau.
Agama
Islam mengandalkan argumen rasional untuk mengetuk kesadaran manusia. Al-Qur'an
sering menantang manusia untuk menggunakan akal sehatnya (afala ta'qilun).
Nabi Muhammad Saw tidak memaksakan iman melalui pembuktian
suprarasional/keajaiban mistik semata, melainkan dengan ilmu, moral, dan
keterbukaan dialektika.
Namun,
Prof. Quraish memberikan batas yang tegas. Tugas akal adalah menganalisis,
menimbang, dan memahami bukti kebenaran (intelektual). Tugas kalbu
adalah meyakini, mencintai, dan beriman (spiritual). Akal dapat
diyakinkan oleh argumen baru, namun iman dan cinta adalah wilayah kebersihan
hati yang menuntun komitmen hidup seorang muslim.
Terkait
ayat utama penutupan kerasulan: “Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad),
melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi seluruh alam.” (QS. Al-Anbiya: 107) Prof.
Quraish Shihab menggarisbawahi tata bahasa (gramatikal) ayat ini. Ayat
ini tidak berbunyi “membawa rahmat”, melainkan “menjadi
rahmat”. Keberadaan (eksistensi) Rasulullah Saw baik dalam ucapan,
tindakan, maupun keheningannya adalah manifestasi dari kasih sayang Tuhan. Rahmat
tersebut melingkupi seluruh alam, manusia (muslim maupun non-muslim),
tumbuh-tumbuhan, hewan, hingga benda-benda tak bernyawa.
Nabi
memberikan nama pada pedangnya, cangkirnya, hingga hewan tunggangannya sebagai
simbol persahabatan kosmologis.
Dalam
Al-Qur’an, Nabi dianugerahi dua sifat istimewa: Raoof (Sangat Penyayang)
dan Rahiim (Maha Pengasih). Ra'fah (belas kasih paling dalam)
merupakan perasaan iba ketika melihat makhluk menderita. Namun, dalam konteks
penegakan keadilan/hukum, belas kasih tidak boleh mengintervensi atau
membatalkan keadilan. Sementara rahmah (tindakan kasih sayang) merupakan
sikap aktif untuk mengangkat derajat dan memperbaiki kualitas hidup sesama.
Perbedaan
pendapat (ikhtilaf) di antara para ulama tafsir maupun fikih pada
hakikatnya adalah wujud rahmah. Keberagaman penafsiran memberikan ruang
bernapas bagi umat dalam berbagai situasi dan kondisi zaman, sehingga agama
tidak pernah menjadi beban yang menindas.
Pertayaan
dan Jawaban ringkas dari sebuah pertayaan
Pertanyaan-pertanyaan
substansial yang mengemuka dalam majelis ilmu ini merangkum ketegangan
spiritual masyarakat modern: antara tawadhu' dan percaya diri, takdir dan
ikhtiar, serta prinsip aqidah dan pergaulan sosial. Prof. Quraish menegaskan
bahwa segala sikap memiliki porsinya masing-masing. Tawadhu' sangat
tepat saat berhadapan dengan keilmuan orang lain atau di hadapan Tuhan. Namun,
ada kalanya harga diri ('izzah) dan ketegasan harus dimunculkan.
Menunjukkan harga diri di hadapan orang yang sombong bahkan bernilai kebaikan (Attakabburu
'alal mutakabbiri shadaqah).
Gus Baha
menggarisbawahi bahwa kunci menghindari kesombongan bukanlah dengan memelihara
perasaan "saya miskin/hina", melainkan mengembalikan seluruh nikmat
kepada Allah. Ketika kita bangga atas nikmat bersujud, yang kita agungkan
adalah Allah Sang Pemberi Nikmat, bukan ego diri kita. Banyak orang merasa
usahanya dikhianati oleh hasil. Untuk memahaminya, Prof. Quraish membagi
kehendak Tuhan menjadi dua dimensi. Masyi’ah (kehendak mutlak) adalah
keputusan Ilahi yang pasti terjadi dan tidak bisa ditawar oleh ikhtiar manusia,
seperti garis kematian atau batas fisik dasar. Iradah (kehendak terikat
usaha/kasb) adalah ketetapan Allah yang memberikan ruang pilihan dan
ikhtiar bagi manusia. Manusia diwajibkan bergerak dan berusaha (kasb).
Ketika
mengalami kegagalan atau kesulitan, manusia diajarkan berdoa bukan untuk
membatalkan takdir mutlak, melainkan memohon agar saat takdir itu menimpa,
Allah menyertakannya dengan kelembutan (as'alukal luthfa fihi). Bagaimana
seorang muslim memosisikan diri di tengah masyarakat majemuk? Secara keyakinan
pribadi, setiap pemeluk agama harus meyakini kebenaran agamanya sendiri secara
penuh (Lakum diinukum wa liya diin). Dalam ranah peradaban, kemanusiaan,
dan kebangsaan, Islam mengajarkan toleransi yang seluas-luasnya. Tidak boleh
ada caci maki, penindasan, atau penghinaan terhadap keyakinan orang lain.
Keadilan mutlak mengenai siapa yang paling benar di arena teologis kelak
menjadi wewenang Allah di hari kiamat.
Penutup
Membawa
Pulang Jiwa yang Tenang dan Penuh Syukur
Peringatan
Maulid Nabi SAW yang dibersamai oleh Gus Baha dan Prof. Quraish Shihab
menyisakan satu pesan mendasar: Agama Islam hadir untuk membawa ketenangan,
kedamaian, dan kelapangan dada. Melalui kearifan Gus Baha, kita diingatkan
agar tidak rumit dalam beragama. Kita diajak untuk menikmati status sebagai
hamba Allah, bangga atas nikmat-nikmat kecil (seperti pakaian, sandal, dan
kesempatan bersujud), serta senantiasa memelihara gairah bersyukur.
Melalui
kedalaman Prof. Quraish Shihab, kita dituntun untuk memadukan kecerdasan akal
dengan kesucian kalbu. Kita diajar untuk memandang figur Nabi Muhammad Saw
bukan hanya dengan kekaguman emosional, melainkan sebagai kompas kasih sayang (rahmah)
yang harus diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari. Beragama dengan gembira,
berpikir dengan jernih, dan melangkah dengan kasih saying itulah warisan sejati
dari Sang Nabi Rahmatan lil 'Alamin.
[1] أخبرنا أبو
خليفة قال : حدثنا أبو الوليد الطيالسي قال : حدثنا عكرمة بن عمار قال : حدثنا
ضمضم بن جوس الهفاني قال لي أبو هريرة : صلى بنا رسول الله صلى الله عليه و سلم
إحدى صلاتي العشي فلم يصل بنا إلا ركعتين فقال له رجل يقال له : ذو اليدين من
خزاعة : يا رسول الله أقصرت الصلاة أم نسيت ؟ فقال : كل ذلك لم يكن فقال : يا رسول
الله إنما صليت بنا ركعتين فقال رسول الله صلى الله عليه و سلم : ما يقول ذو
اليدين ؟ وأقبل على القوم فقالوا : يا رسول الله لم تصل بنا إلا ركعتين فقام النبي
صلى الله عليه و سلم فاستقبل القبلة فصلى الركعتين الباقيتين ثم سلم ثم سجد سجدتين
وهو جالس
صَحِيحُ
ابْنِ حِبَّانَ، جـ ٦، صـ ٤٠٤، رَقْمُ الْحَدِيثِ: ٢٦٨٧، وَقَالَ الشَّيْخُ
شُعَيْبُ الْأَرْنَاؤُوطُ: «إِسْنَادُهُ قَوِيٌّ».



Posting Komentar
0 Komentar